|
Life as student college, salah, life as architecture student college, bikin aku mereset ulang skala prioritas. well, mungkin ga cuma di arsitektur aja, tapi mungkin di semua jurusan. karena hidup sekarang benar-benar jauh beda dari masa sekolah. masa-masa sma. masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah. Awal masuk, exciting. cuma jujur ga terlalu niat langsung serius. ingatan masa sma kalo biasanya minggu pertama itu kebanyakan jam kosong. nah ini, JAM KOSONG DARI HONGKONG!! minggu pertama tugas datang menyerang bagai peluru di medan perang. lebai? ga juga. that's what i feel. tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa. bahkan, oke, jujur, ada yang hilang ketika melewati malam-malam tanpa mengerjakan tugas. haha, you may laugh. but it's true. ![]() salah satu tugas balik ke skala prioritas. dulu, waktu sma [ceile waktu sma! baru juga semester satu!] hal-hal yang ada di urutan atas prioritas itu cuma fun. ya majalah, film, novel, makanan, jalan ma teman. belajar itu jadi prioritas ketika mendekati ujian. tugas jadi prioritas mendekati waktu deadline. kalo ada duit, sasaran langsung ke distro, gramedia, pizza hut, nonton film. sekarang? ada duit dipikirin buat beli penggarais rotring. heuheu. nah ini. aku di malang tinggal di daerah kost-kost an yang dengan begitu waktu ada lbur, anak-anak yang kampung halamannya deket, such as surabaya, jember, pasuruan. etc, pulang. dan daerah kostan sepi. nyari makan susah, soalnya gada yang jualan. nah, ngomong soal beli makan, ada hal aneh yang terjadi padaku. makanan aku yang berubah dari ikan goreng plus sayur-sayuran menjadi nasi goreng, batagor, mie goreng, tahu telor, dan sejenisnya. aduh gimana ya bikin kalimatnya. begini. selama liburan ini. oke, ga selama libur aja sih. hampir setiap hari, aku makan makanan yang aku sebutkan di atas. gini aja, baca percakapan berikut. Aku: Mas, batagornya satu ya. kemudian malamnya aku beli nasi goreng... Aku: Mas, nasi gorengnya satu.Paginya beli tahu telor... here's the story Aku: Mbak, tahu telotnya satu, dibungkus, sama jus alpukat juga. [yes, an old mixture]dan percakapan berlanjut kayak biasa. Oke, aku masih pikir ini masih dalam taraf normal. so, malamnya, aku veli sate didepan kost. And i thingk you know what did the tukang sate say.. Pak Tukang Sate: Ga pulang, mbak? |
| Leave a Comment: |